«

Gerakan Boikot "50 Dollars not 50 Shad" untuk "Fifty Shades of Grey"

»

Meskipun trailer Fifty Shades of Grey ditonton jutaan penonton, namun menjelang dirilisnya film ini justru harus menghadapi banyak kontroversi. Dikabarkan lewat People, sebagian masyarakat di dunia maya memboikot film Fifty Shades of Grey tersebut.

Gerakan dunia maya yang bertajuk 50 Dollars not 50 Shad mengajak masyarakat untuk mengalokasikan biaya nonton film Fifty Shades of Grey yang sebesar 50 dollar AS untuk disumbangkan kepada korban kekerasan seksual. Aktivis anti kekerasan domestik mempopulerkan aksi mereka dengan tagar #50DollarsNot50Shades dan #50ShadesIsAbuse untuk menentang film itu.

"Uang yang Anda keluarkan untuk tiket bioskop dan baby sitter, atau tiket bioskop, popcorn, dan minuman akan disalurkan langsung kepada para korban kekerasan seperti yang tampak glamor dalam 50 Shades. Hollywood tidak membutuhkan uang Anda, wanita korban kekerasan seksual membutuhkannya," tulis keterangan dalam laman facebook gerakan tersebut.

"Orang-orang benar-benar marah dengan film termasuk unsur kekerasan di dalamnya. Jadi mereka pasti akan senang memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang positif untuk membantu mengimbangi kerusakan," kata aktivitis anti kekerasan tersebut dilansir dari Washington Times.

Seperti yang telah diketahui, film yang diadaptasi novel best seller berjudul sama karangan E. L. James sarat aktifitas intim. Aktifitas intim yang dilakukan oleh Anastasia (Dakota Johnson) dan Christian Grey (Jamie Dornan) menunjuk ke arah BDSM alias Bondage and Discipline, Sadism and Masochism (perbudakan, disiplin, sadis, dan masokis).

Aksi boikot telah digaungkan, walaupun begitu Fifty Shades of Grey tetap akan ditayangkan ke sejumlah negara. Fifty Shades of Grey akan dirilis 13 Februari 2015 di Amerika Serikat dan 11 Februari di pembukaan Berlin Internasional Film Festival. Sementara negara Inggris akan menayangkannya pada 13 Februari dengan rating 18.


Keyword: 50 dollars not 50 shades, 50 shades is abuse, berlin internasional film festival, e. l. james, jamie dorna




Komentar