Siapa orang di dunia ini yang tidak menyukai film, Anda pasti juga menyukainya, film merupakan sebuah hiburan yang telah menemani masyarakat dunia dengan jenis dan keragamannya, yang kemudian nama bekennya adalah GENRE, tetapi jenis manakah yang anda sukai? drama, action, fiction, science fiction, fantasy, religion atau bahkan yang lagi banyak digencarkan di dunia perfilman Indonesia adalah genre URBAN dibalik tameng Comedy?
Saya sangat senang ketika film-film berbau Islam mulai melanda rancah negara Indonesia yang mayoritas Islam, memberikan penyegaran kepada masyarakat yang sudah kering dengan siraman-siraman Islami dari sebuah LAYAR besar di bioskop-bioskop, sebut saja Ayat-ayat Cinta sebagai film Islam yang diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia dan juga beberapa belahan negara Asia seperti Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sebenarnya dulu sudah ada film yang digarap oleh Dedi Mizwar, yang kita kenal dengan Kiamat Sudah Dekat, tapi gaungnya memang tidak seperti AAC yang digandrungi oleh masyarakat kita terlebih anak-anak muda, ada yang suka dengan karakter pemainnya, alur cerita atau bahkan karena ngefans sama pemainnya.
Dibalik itu film ini juga memiliki kontra versi sendiri, saya beberapa hari yang lalu sempat membahasnya dengan salah satu teman yang sedang berada di Thailand, dia menceritakan keburukan AAC dari sudut pandang dia yang menyebutkan AAC menjelekkan Islam dari segi TA’ARUF-nya, tapi mungkin ini akan saya sampaikan dilain kesempatan, lalu bagaimana dengan penerus AAC sendiri? seperti biasa Indonesia selalu membuat film yang ber-genre sama jika jenis film itu ada yang pernah sukses sebelumnya,
contohnya seperti Kun Fayakun, Mengaku Rasul, Sesat, yang mencoba mendulang sukses dengan mengambil tema yang sama, walhasil AAC tetap menjadi unggulan, ya seperti biasa, film pertama yang sudah sukses, akan sulit diikuti dengan film-film berikutnya yang mengambil tema yang sama kecuali, film tersebut memiliki sequel yang tidak jarang akan melewati kepopuleran film pertamanya.
Indonesia sekarang sedang dijejali dengan tiga jenis film HORROR (klasik, karena jenis film ini semakin banyak sejak tahun 2007), Comedy dan Regilion. Tapi bagaimana dengan film-film komedi yang mengocok perut, apakah masyarakat menyukainya? Ya ini tidak akan diragukan lagi, masyarakat membanjirinya, jika komedinya memiliki makna penting dan bisa memberikan khasanah baru ke perfilman Indonesia mungkin saja bisa diterima, tapi bagaimana dengan film-film URBAN yang dibalut dengan tameng Comedy?
Film-film ala metropolitan, dengan lifestyle yang selalu saja dibumbuhi dengan kehidupan “HARAM” ditayangkan dengan “Baik” dan “Menghibur”, tapi tahukah, bahwa tiada batasan bagi siapa saja yang menonton di bioskop kita, sebut saja film XL, ML?, Mau Lagi, Drop Out (DO), dan yang paling baru ASOY GEBOY , fenomena film “Dewasa” ini bebas di konsumsi oleh anak-anak remaja atau kecil yang belum pantas menontonnya, dan bagaimana film ini menampilkan adegan syur yang membuat para penikmat film jenis ini lebih menantikan film lainnya yang menayangkan hal yang sama. Dan saya mencoba memberikan sedikit fakta tentang sebuah riset yang saya lakukan dengan youtube.
Saya mengupload trailer Asoy Geboy di hari perdana penayangannya, dan langsung saja sudah puluhan orang melihatnya, berbeda dengan film DOA YANG MENGANCAM, salah satu film yang baru kemarin (9 September) rilis, saya mengupload trailernya sehari sebelumnya, dan peminatnya sangat sedikit, padahal pemainnya adalah AMING (Namaku Dick, Quickie Express) dan Titi Kamal (Drop Out) yang juga pemain film-film comedy dewasa. Padahal kalau dilihat film ini pas sekali di tayangkan di saat-saat bulan Ramadhan ini, walaupun saya tidak setuju dengan Pengancaman kepada Allah jika doa kita tidak dikabulkan, sah-sah saja jika pendidikan agama dan kandungan agama dalam masing-masing individu yang menonton bisa membedakan antara yang benar dan salah, tapi bagaimana jika ilmu agamanya masih cetek, bisa saja jalan “Pengancaman” akan dihalalkan dan diharapkan mendapatkan indera ke-enam seperti yang di dapat oleh Aming dalam film tersebut.
Dan memang para penulis, pelakon dan orang-orang perfilman Indonesia sudah cerdas dan mahir dalam membuat film, tetapi tidak untuk mencerdaskan msyarakat lewat film. Bahkan banyak sekali penjerumusan yang dilakukan hingga membuat masyarakat menjadi terbuai dalam dunia film yang dia coba lakoni dalam dunia nyata. Orang-orang dunia perfilman mungkin harus sedikit jeli bagaimana mencoba membuat film yang dapat merangkul masyarakat, mendidik dengan baik, dan memberikan makna yang bisa diambil secara lebih gamblang. OK memang, film-film Indonesia selain cerdas, bermakna juga, setiap film yang saya lihat, makna di dalamnya ada, bahkan film-film urban yang juga memberikan gambaran akibat-akibat apa saja yang terjadi dalam kehidupan ala metropolitan mereka, tapi kembali lagi masyarakat memang telah disuguhi rating film yang baru, tetapi bioskop-bioskop kita belum menetapkan siapa saja yang berhak menontonnya, misal apakah Anda pernah diminta menunjukkan KTP Anda di bioskop? sebagai bukti Anda sudah 18 tahun ke atas?
Fenomena film Urban ini juga terjadi di saya sebagai pengelola salah satu web film di Indonesia, bagaimana orang-orang bertanya bagaimana mereka mendownload gratis film-film fulgar seperti DO, ML, XL dan ASOY GEBOY dibandingkan saya tawarkan film Kun Fayakun, AAC…
jawaban mereka akan beragam, “Akh gak asik, gak ada x-nya”, “Wah jangan mentang-mentang Ramadhan dong, heheheh”, “Wah perlu penyegaran mata soalnya.” HALAH…
Nah Anda dipihak mana, URBAN atau RELIGION?
Popularity: 2% [?]
Leave a Reply
Using Gravatars in the comments - get your own and be recognized!
XHTML: These are some of the tags you can use:
<a href=""> <b> <blockquote> <code> <em> <i> <strike> <strong>