Industri perfilman kita makin mengeliat, tapi seperti yang saya ulas di artikel saya yang lalu, fenomena perfilman sepertinya balik ke era jaman Warkop yang doyan menghumbar aurat dan gaya hidup perkotaan dengan aroma HARAM yang kuat.
Fenomena dunia malah mulai meninggalkan itu, dengan dunia IT yang semakin berkembang, film-film dunia menggunakan teknologi ini dengan baik, bahkan menampilkannya secara visual dengan baik dan pas. Ingat bagaimana cerita tentang Die Hard 4.0, yang hampir membuat saya sangat shock, bagaimana film ini betul-betul menonjolkan begitu pentingnya teknologi dalam kehidupan manusia, dibandingkan film-film yang mengungkapkan tentang drama konyol, berbalut komedi cinta yang norak dan menghumbar aurat, tapi UPS, hal ini tak bisa kita pungkiri masih menjadi LEVEL 1 dari jajaran film di Indonesia.
Tapi tentu gak berlaku bagi mereka yang cukup cerdas dalam memilih film, atau bahkan bagi Anda yang suka dengan perkembangan teknologi, penuh imajinasi hebat, dan haus dengan visual efek yang keren, Untraceable memberikan sesuatu yang tak kalah menarik, dengan ulasan yang harus dicerna dengan baik ketika Anda menontonnya, tapi dia juga memberikan informasi kejahatan melalui dunia IT, bagaimana film ini membuat orang harus menyaksikan kematian orang lain demi membalaskan dendam sang psikopat yang sekaligus pemilik situs dan paham dengan IT dengan sangat baik, sayangnya kebohongan dia terekam diakhir cerita yang membuat orang menyayangkan hilangnya banyak nyawa karena kebohongannya tentang pengunjung situs yang dia tingkatkan secara fiktif.
Lalu film-film berat yang menyentuh dengan pantas, bahkan di Indonesia sekalipun, The Dark Knight, bagaimana film ini begitu cerdas untuk memaparkan isi cerita dengan efek yang luar biasa, dimana dunia perfilman kita masih sibuk dengan balutan cerita drama komedi ala Urban dan sibuk mencari pemain yang mau menjadi sasaran untuk objek seks yang bagus. Indonesia betul-betul harus berkaca dengan ribuan layar plus-plus untuk bisa menghasilkan film-film bagus bahkan untuk sekelas Casper sekalipun.
Walaupun begitu industri film di luar negeri yang memang semakin pesat, kita disuguhkan dengan beberapa film yang juga mencerita kehidupan percintaan, politik, kekerasan, fantasi, bahkan science fiction yang beragam. Meskipun ada beberapa yang saya nilai memiliki rating jelek bahkan saya berfikir, apakah mereka terlalu cerdas untuk membuat film sehingga terlalu bodoh dengan membuat film tak bermutu. Yang membuat saya begitu makin menyukai film-film berbau teknologi di semua jenis film yang ditampilkan, adalah mereka pas memaparkannya, walaupun hanya lewat sebuah rekaman handphone sekalipun.
Benar-benar menjadi Pe-er buat kita, sebagai negara penghasil film yang sudah bisa dikatakan lumayan di kawasan Asia, walaupun kita masih kalah dengan produksi film India, Korea, Cina, dan Jepang yang masih merajai dunia perfilman Asia. Ok satu hal lagi, karena film Indonesia juga belum di ekspor agar pantas untuk menjadi tontonan negara lainnya. Kecuali Malaysia yang kini semakin terancam juga dengan banyaknya film-film Indonesia bertebaran di bioskop-bioskop kota mereka. Tapi saya masih ingat ketika ajang JIFFEST tahun lalu, QUICKIE EXPRESS tidak bisa diterima di Malaysia karena jenis filmnya tidak pantas masuk ke negeri Jiran yang memegang nilai-nilai agama Islam dengan kuat. But wait, bukannya penduduk beragama Islam di Indonesia lebih banyak, dan bukannya Indonesia merupakan negara dengan penduduk beragama Islam nomor wahid di dunia, tapi kok malah memproduksi film-film jenis ini. Lagi-lagi jawaban klasik yang kita dapatkan, “karena Indonesia, negara fleksibel dan lentur”.
Tapi kita tak cukup lentur untuk membuat film-film cerdas dengan isi manusia-manusia luar biasa. Dan apakah benar pendapat beberapa orang yang menyatakan “orang Indonesia yang benar-benar cerdas sudah habis, karena mereka lebih banyak hengkang dan mencoba peruntungan di negara yang lebih bisa menghargai otaknya”, dibandingkan sebuah sandungan dengan prinsip dan konsumsi pasar?
Ini bukan Pe-er untuk para pembuat film, pengamat film, tetapi semua untuk lebih kritis dalam memberikan statement agar kita tak lagi makin terpuruk dalam balutan film Urban yang makin marak.
Popularity: 5% [?]







Yang kedua: uang / dana. Dana selalu berperan penting. Fenomena di Amerika setiap perusahaan pengedar besar memiliki perusahaan kecil yang memproduksi film-film bermutu. Di sini belum ada hal begitu.